Yohanes: Tanpa Verifikasi, Berita Berpotensi Hoaks
|
Ruteng — Anggota Bawaslu Kabupaten Manggarai, Yohanes Manasye berbagi tips agar berita tak dianggap hoaks. Salah satunya dengan melakukan verifikasi terhadap informasi yang hendak dijadikan berita. Ia menyampaikan hal itu ketika berbicara di hadapan anggota muda PMKRI Cabang Ruteng di aula Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Sabtu (28/02/2026).
“Verifikasi bertujuan untuk menguji kebenaran atas informasi tersebut. Tanpa verifikasi, berita akan menjadi tuduhan yang belum tentu benar dan berpotensi sebagai hoaks,” ujar Yohanes saat itu.
Yohanes diundang sebagai narasumber dalam kapasitasnya sebagai mantan jurnalis. Ia menyampaikan materi Pengantar Jurnalistik, salah satu materi wajib dalam kurikulum Masa Bimbingan (Mabim) calon anggota PMKRI.
“Hari ini saya bicara sebagai mantan jurnalis. Tetapi sebagai penyelenggara Pemilu, boleh dong saya sentil sedikit-sedikit ilmu jurnalistik yang berkaitan dengan konsentrasi kami di Bawaslu, salah satunya terkait pencegahan hoaks,” ujar Yohanes di sela-sela pemaparan materinya.
Mengutip elemen jurnalisme Bill Covach, mantan jurnalis Metro TV itu mengatakan jurnalis harus menyampaikan kebenaran. Berita yang benar merupakan hak publik yang harus dipenuhi oleh jurnalis. Untuk mengungkap kebenaran, jurnalis harus disiplin melakukan verifikasi kepada pihak dipandang berkompeten untuk menjelaskan hal yang diberitakan.
Ia mencontohkan, ketika mendapat informasi tentang skandal yang melibatkan seorang tokoh, jurnalis harus menyangsikan kebenaran informasi tersebut. Untuk menguji kebenarannya, jurnalis harus melakukan verifikasi dengan mengamati dan mewawancarai pihak-pihak yang disebut-sebut di dalam informasi tersebut.
“Makanya salah satu syarat menjadi jurnalis itu harus mampu menembus sumber berita. Kalau tidak berani, tidak mampu menembus sumber berita, takut bertemu narasumber, sebaiknya jangan menulis topik tersebut. Tetapi kalau memilih untuk menulisnya, wajib melakukan verifikasi terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahaya hoaks. Di tengah masyarakat yang minim literasi, informasi yang tidak terverifikasi kerap diterima sebagai suatu kebenaran. Hoaks pada akhirnya bisa membunuh karakter dan menghancurkan reputasi seseorang hingga memicu kegaduhan dan konflik.
“Saya berharap, bila suatu saat adik-adik terpanggil untuk menjadi jurnalis, jadilah jurnalis profesional. Cintai profesi itu dengan mematuhi kode etik. Jadikan pers sebagai garda terdepan dalam memerangi hoaks,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan betapa besarnya peran pers dalam negara demokrasi. Selain eksekutif, legislatif, dan yudikatif, ada pers sebagai pilar ke empat. Agar berdiri kokoh sebagai pilar demokrasi, pers harus independen. Pers yang independen akan efektif mengontrol kekuasaan.
Materi pengantar jurnalistik yang disampaikan Yohanes mendapat tanggapan dari para peserta. Dalam sesi diskusi, mereka menyoroti soal fenomena viralitas informasi yang tidak terverifikasi, kode etik jurnalistik, dan merawat idealisme aktivis mahasiswa ketika menjadi jurnalis.
Pada kesempatan itu, Sekretaris Jenderal PMKRI Cabang Ruteng, Olga Joy Purnama mengapresiasi kehadiran narasumber yang berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada calon anggotanya. Ia pun meminta kesediaan untuk pendampingan lanjutan terhadap anggotanya melalui pelatihan jurnalistik.
“Selain pengantar jurnalistik, kami membutuhkan pendampingan lanjutan melalui latihan-latihan. Mudah-mudahan ke depan kita bisa buat pelatihan jurnalistik,” katanya.
Penulis: Gaudensius Tarung
Foto: Humas BKM