Sarat Godaan, Pengawas Pemilu Harus Perkuat Integritas
|
RUTENG – Asrullah, mantan anggota Panwas Kecamatan Reok pada Pemilu dan Pemilihan 2024 lalu mengatakan pengawas Pemilu sering menghadapi godaan. Karena itu, pengawas Pemilu harus memperkuat integritas agar tak termakan godaan.
Ia menyampaikan hal itu saat membawakan tausiyah pada Ngabuburit Pengawasan sesi 3 bertajuk “Spiritualitas Puasa Memperkuat Integritas Pengawas Pemilu” yang berlangsung di kantor Bawaslu Kabupaten Manggarai, Kamis (12/03/2026).
“Saya alami itu sendiri,” ujar Asrullah.
Ia menuturkan, godaan yang sempat dijumpainya berupa janji pekerjaan dan posisi.
“Kalau suap itu mungkin mereka hanya wacana, tapi kalau ada janji-janji tentang pekerjaan, jabatan, posisi, itu saya alami sendiri pada saat momen-momen Pemilu,” tuturnya.
“Tapi saya, alhamdulillah dan saya bersyukur juga, saya tidak termakan godaan itu,” katanya.
Asrullah pun mengatakan ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan sangat relevan dalam memperkuat integritas pengawas Pemilu. Baginya, puasa adalah momentum penempaan diri untuk membentuk pribadi yang beriman dan bertaqwa. Puasa juga merupakan momentum mengontrol diri dan menahan diri dari hawa nafsu.
“Karena sebenarnya, musuh terbesar itu bukan ada di luar, tapi ada di dalam diri kita sendiri, yaitu nafsu kita. Bagaimana kita bisa mengendalikan apa yang kita inginkan, bukan sekadar mengikuti apa yang kita mau,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan puasa sebagai ibadah yang rahasia karena hanya pribadi dan Tuhan yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak. Puasa, kata Asrullah, melatih kejujuran dan integritas seseorang.
“Kalau shalat, orang bisa lihat kita ruku dan sujud. Kalau zakat, orang bisa lihat kita memberi. Tapi kalau puasa, siapa yang tahu kalau di dalam kamar kita minum atau makan sedikit? Tidak ada yang tahu kecuali diri kita dan Allah SWT. Inilah yang melatih kejujuran kita. Melatih integritas kita,” katanya.
Puasa, kata Asrullah, mengajarkan bahwa melakukan sesuatu bukan karena ingin dipuji orang, bukan karena takut dilihat orang, tapi semata-mata karena ketaatan kita kepada Sang Pencipta.
“Kalau ini sudah terlatih, maka dalam kehidupan sehari-hari pun kita akan menjadi pribadi yang jujur, pribadi yang memiliki integritas, meskipun tidak ada orang yang mengawasi kita,” katanya.
Selain kejujuran, puasa juga mengajarkan kesabaran dan istiqomah. Nilai-nilai yang terpancar dari ibadah puasa, lanjut Asrullah, harus melekat pada diri seorang pengawas Pemilu. Hal ini selaras dengan spirit pengawas Pemilu yang jujur, adil, dan mandiri serta berintegritas.
“Puasa menjadi momentum penempaan diri seorang insan agar ta'at, tunduk dan patuh dan tidak tergoyahkan dengan godaan sebesar apapun, itulah nilai spiritualitas dalam puasa,” kata Asrullah.
Ketua Bawaslu Kabupaten Kabupaten Manggarai, Fortunatus Hamsah Manah mengapresiasi tausiyah yang disampaikan Asrullah. Pesan-pesan yang dia sampaikan diharapkan dapat memperkaya perspektif dan memperkuat integritas pengawas Pemilu dalam menyukseskan Pemilu 2029.
Ngabuburit Pengawasan sesi 3 ini sekaligus menutup rangkaian kegiatan selama bulan suci Ramadhan di Bawaslu Kabupaten Manggarai. Selama tiga sesi pelaksanaan ngabuburit, Bawaslu Kabupaten Manggarai tidak hanya menghadirkan peserta internal lembaga tetapi juga peserta eksternal yang terdiri dari pengurus Gerakan Pemuda Ansor dan Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Manggarai, serta komunitas Sahabat Bawaslu dan kader Pengawas Partisipatif yang hadir melalui zoom meeting.
Penulis: Gaudensius Tarung
Foto: Humas BKM