Melalui Ngabuburit Pengawasan, Bawaslu Manggarai Maknai Ramadhan sebagai Momentum Merawat Kerukunan Pasca Pemilu
|
Ruteng – Bawaslu Kabupaten Manggarai kembali menggelar ngabuburit pengawasan untuk mengisi waktu sebelum berbuka puasa bersama pada Kamis (5/3/2026). Kali ini, acara yang berlangsung di kantor Bawaslu itu mengusung tema “Ramadhan Sebagai Momentum Merawat Kerukunan Pasca Pemilu 2024”.
Hadir membawakan tausiyah, Haji Abdurachman Marolla. Ia merupakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Manggarai.
Sementara peserta tak hanya keluarga besar Bawaslu Kabupaten Manggarai, tetapi juga pengurus Pemuda Muhammadiyah dan Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Manggarai. Selain itu, hadir pula secara daring melalui zoom meeting, sejumlah kader pengawas partisipatif dan komunitas Sahabat Bawaslu yang merupakan mantan pengawas adhoc.
Dalam sambutan pembukaan kegiatan, Anggota Bawaslu Kabupaten Manggarai Yohanes Manasye mengatakan Pemilu sebagai ajang kontestasi kerap diwarnai dengan perbedaan, pertentangan, bahkan konflik. Ia berharap, ada nilai dan spiritualitas bulan suci Ramadhan yang menghadirkan kedamaian pasca Pemilu 2024 lalu sekaligus menyongsong Pemilu 2029.
“Kami berharap nilai dan spiritualitas bulan suci Ramadhan bisa memberikan warna bagi seluruh masyarakat Manggarai agar relasi sosial yang pernah renggang dan retak akibat perbedaan politik pada Pemilu dan Pilkada 2024 lalu bisa terjalin kembali. Dan selanjutnya, kita semakin dewasa memandang perbedaan pilihan pada Pemilu 2029," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Bawaslu Kabupaten Manggarai, Fortunatus Hamsah Manah, mengatakan ngabuburit pengawasan Pemilu Bawaslu Kabupaten Manggarai adalah sebuah kegiatan yang sederhana dalam bentuknya, tetapi besar maknanya bagi perjalanan demokrasi dan kehidupan kebangsaan.
“Ngabuburit adalah tradisi yang akrab di tengah masyarakat kita. Ia bukan sekadar kegiatan menunggu waktu berbuka puasa. Dalam pengertian yang lebih dalam, ngabuburit adalah momentum kontemplasi, momentum perenungan, sekaligus momentum kebersamaan,” ujarnya.
Ngabuburit bukan hanya sebagai kegiatan sosial, tetapi juga ruang spiritual dan ruang demokrasi. Ia mengajak peserta untuk menunggu waktu berbuka sambil merenungkan tanggung jawab sebagai warga negara, yakni menjaga proses demokrasi agar tetap jujur, adil, dan bermartabat.
Lebih lanjut, Fortunatus mengatakan Bawaslu bukan hanya lembaga pengawas Pemilu secara administratif. Lebih dari itu, Bawaslu adalah penjaga moralitas demokrasi.
“Bawaslu adalah benteng yang memastikan bahwa setiap proses Pemilu berjalan sesuai dengan prinsip kejujuran, keadilan, dan integritas,” ungkapnya.
Ngabuburit Pengawasan Pemilu, lanjut Fortunatus, menjadi upaya membangun kesadaran publik bahwa menjaga demokrasi bukan hanya tugas penyelenggara Pemilu, tetapi tugas seluruh rakyat Indonesia. Masyarakat diharapkan menjadi pengawas aktif yang berani mencegah dan melaporkan pelanggaran.
“Mari kita awasi setiap tahapan pemilu. Mari kita lawan praktik politik uang. Mari kita jaga persatuan dan kedamaian,” pungkasnya.
Penulis: Gaudensius Tarung
Foto: Humas_BKM