Fortunatus: Spiritualitas Puasa adalah Fondasi Etika Demokrasi
|
RUTENG – Ketua Bawaslu Kabupaten Manggarai, Fortunatus Hamsah Manah, menekankan pentingnya pengendalian diri sebagai fondasi etika dalam kehidupan berdemokrasi. Ia menyampaikan hal itu saat Ngabuburit Pengawasan sesi 3 yang berlangsung di Kantor Bawaslu Manggarai, Kamis (12/3/2026) sore.
Spiritualitas puasa, kata Fortunatus, mengajarkan kebebasan sejati yang disertai kesadaran untuk mengendalikan diri. Ia menilai bahwa latihan spiritual selama bulan Ramadan memiliki relevansi kuat dengan semangat pengawasan Pemilu.
"Puasa adalah latihan spiritual yang mendidik manusia untuk menahan diri dari berbagai godaan, termasuk godaan untuk berbuat tidak jujur, tidak adil, serta menyalahgunakan kekuasaan," ungkap Fortunatus.
Ia berharap spiritualitas puasa memunculkan kesadaran baru bahwa menjaga integritas Pemilu merupakan tanggung jawab moral setiap warga negara. Ia pun menegaskan bahwa mengawasi Pemilu secara jujur bukan hanya sekadar kewajiban konstitusional, melainkan juga bentuk ibadah sosial untuk kebaikan bersama.
"Demokrasi sejatinya adalah ruang partisipasi, ruang keterlibatan, dan ruang tanggung jawab bersama," tambahnya.
Lebih lanjut, Fortunatus memaparkan bahwa meskipun Bawaslu memiliki mandat konstitusional untuk memastikan Pemilu berjalan jujur dan adil, pengawasan tersebut tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat. Partisipasi publik menjadi pilar penting dalam menjaga kualitas demokrasi di Kabupaten Manggarai.
Acara ngabuburit ini pun dimaknai sebagai ruang refleksi bersama agar nilai-nilai spiritualitas puasa dapat memberikan energi moral dalam kehidupan sosial dan politik, khususnya dalam pengawasan Pemilu yang berintegritas.
Di akhir sambutannya, Fortunatus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum Ramadan sebagai ajang memperkuat komitmen moral dalam merawat kejujuran dan keadilan di setiap proses demokrasi.
Penulis: Gaudensius Tarung
Foto: Humas BKM